Selasa, 23 Oktober 2018 00:00 WIB
PT TNG Targetkan PLTSa Berjalan Tahun 2019
PT TNG Targetkan PLTSa Berjalan Tahun 2019
PT TNG Targetkan PLTSa Berjalan Tahun 2019
PT TNG Targetkan PLTSa Berjalan Tahun 2019

Pemerintah Kota Tangerang fokus dalam pengelolaan sampah menjadi energi terbarukan. Salah satunya adalah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) di TPA Rawa Kucing.

Direktur PT TNG, Nanang Hermawan mengatakan, dalam mewujudkan PLTSA, pihaknya selaku BUMD diberikan tugas oleh Pemkot Tangerang untuk mencari mitra kerjasama dalam pengelolaan sampah. Saat ini memasuki tahap pengkajian PLTSA yang menjadi proyek strategi nasional itu. "Mudah-mudahan di tahun 2019 sudah ketemu dengan mitra kerja PLTSA," ujarnya.

Dikatakannya, pengelolaan sampah menjadi listrik akan memanfaatkan teknologi insenerator. Nantinya lokasi pengelolaan akan terpisah dari TPA Rawa Kucing yang menjadi bahan utamanya.

"Lahannya dibutuhkan sekitar 4-5 hektar potensinya bisa di Jatiuwung atau lokasi lainnya yang disesuaikan dengan tata ruang kota. Jika sudah beroperasi PLTSA mampu menghasilkan 12-20 megawatt dengan perkiraan sampah perharinya mencapai 2000 ton," paparnya.

Sekretaris Daerah Kota Tangerang, Dadi Budaeri mengatakan pemerintah Kota Tangerang telah mengadakan penjajakan pasar (market sounding) yang bekerja sama dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur menjadi energi listrik.

Sebanyak 78 perusahaan nasional dan internasional serta perwakilan kementerian dan BUMN mengikuti proses lelang penyediaan infrastruktur pengelolaan sampah menjadi energi listrik, yang dilaksanakan oleh PT Tangerang Nusantara Global, BUMD Kota Tangerang.

Saat ini, Kota Tangerang telah memiliki TPA Rawa Kucing dan sebagai salah satu fasilitas utama untuk proyek pengolahan sampah berbasis energi sesuai dengan Perpres No. 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah.

"Sekarang TPA Rawa Kucing mampu menampung sampah sekitar 1.000 ton per hari. Namun teknologinya masih tradisional jadi masih ada efeknya ke lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknologi yang dapat membantu mengatasi dampak dari proses pengolahan persampahan di hilir.




Artikel Terkait


Komentar

Pastikan Google Captcha Sudah Tercentang !!!