Kondisi kemarau di Kota Tangerang tak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran. Tumpukan sampah, limbah, lahan kosong, hingga tumbuhan kering menjadi lebih mudah terbakar saat kondisi lingkungan mengering.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar menyatakan, berdasarkan data kejadian, sebanyak 138 kebakaran yang melibatkan tumpukan sampah, limbah, lahan kosong dan material kering tercatat terjadi di Kota Tangerang. Kejadian tersebut tersebar di seluruh 13 kecamatan.
”Kecamatan Pinang mencatat kejadian terbanyak dengan 19 kasus, disusul Kecamatan Periuk sebanyak 18 kasus. Selanjutnya, Kecamatan Batuceper dan Ciledug masing-masing mencatat 14 kejadian, Kecamatan Tangerang 11 kejadian, serta Kecamatan Karang Tengah sebanyak 10 kejadian,” papar Mahdiar, Senin (28/9/26).
Sementara itu, Kecamatan Cibodas, Karawaci, Neglasari dan Cipondoh masing-masing mencatat 9 kejadian. Kecamatan Benda mencatat 6 kejadian, sedangkan Kecamatan Jatiuwung dan Larangan masing-masing sebanyak 5 kejadian.
”Kondisi kering membuat material seperti daun, rumput, sampah, limbah, dan tumpukan bahan mudah terbakar lebih cepat kehilangan kelembapan. Api yang muncul dari aktivitas pembakaran terbuka maupun sumber lainnya juga berpotensi lebih cepat merambat, terutama di lahan kosong dan area dengan banyak material kering,” jelas Mahdiar.
Untuk itu, masyarakat Kota Tangerang diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak membakar sampah sembarangan. Warga juga perlu memastikan bara api benar-benar padam setelah melakukan aktivitas yang menggunakan api serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi memicu kebakaran.
”Kewaspadaan bersama menjadi langkah penting untuk menekan potensi kebakaran selama kondisi kekeringan. Dengan tidak membakar sampah sembarangan, menjaga lingkungan dari tumpukan material mudah terbakar, dan melaporkan potensi kebakaran sejak dini, masyarakat dapat ikut membantu menjaga keamanan lingkungan di Kota Tangerang,” tutupnya.