Kamis, 03 September 2026
Tangerang, oC

Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru Kota Tangerang Dampingi Pasien TBC hingga Sembuh

Rabu, 02 September 2026 14:08 WIB
28
Share
Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru terletak di Jl. Bina Marga II, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Kamis (27/8/26). (Sumber : Dinas Kominfo Kota Tangerang) (IMAM DWI SAPUTRA)

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tangerang memperkuat komitmennya dalam mendukung kesehatan masyarakat melalui program Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru. Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, RSUD Kota Tangerang dan komunitas relawan Penabulu STPI, fasilitas karantina dan isolasi khusus pasien Tuberkulosis (TBC) ini dihadirkan secara bebas biaya (gratis) bagi warga Kota Tangerang.

Program percontohan di Provinsi Banten ini, memanfaatkan alokasi zakat, infak dan sedekah (ZIS), khususnya zakat profesi ASN Dinas Kesehatan Kota Tangerang, guna memastikan pasien TBC terutama yang resistan terhadap obat dengan mendapatkan pendampingan isolasi, edukasi dan pemantauan medis harian yang terstruktur.

Muhammad Azhari, Divisi 2 Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan BAZNAS Kota Tangerang menyampaikan, BAZNAS merupakan mitra pemerintah yang bertugas membantu, salah satunya sektor kesehatan.

"Program Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru ini adalah hasil sinergi realisasi dana zakat profesi ASN Dinas Kesehatan Kota Tangerang untuk membantu proses pemulihan pasien TBC secara terstruktur dan terawasi," terangnya

Sementara itu, Manajer Kasus Penabulu STPI RSUD Kota Tangerang Chaerunysha Metta menjelaskan, dua minggu pertama merupakan fase krisis bagi penderita TBC.

Selama periode tersebut, tim pendamping mengawal rutinitas pasien di Rumah Sehat BAZNAS untuk memastikan seluruh dosis obat terapi terkonsumsi dengan tepat hingga bakteri dibasmi dan tidak lagi berpotensi menularkan.

"Masa-masa krisis pasien TBC itu berlangsung selama dua minggu pertama pengobatan. Di Rumah Sehat BAZNAS ini, kami mendampingi mereka dari pagi hingga malam agar memastikan seluruh dosis obat secara teratur. Setelah dua minggu perawatan intensif, bakteri TBC sudah dibasmi dan tidak lagi menularkan," ucapnya.

Ia menggarisbawahi pentingnya melacak kontak erat (tracing), terutama pada orang dewasa yang berkegiatan minimal 8 jam sehari bersama anak-anak.

Menurutnya, penelusuran sumber penularan sangat krusial karena anak-anak di bawah usia 12 tahun yang terpapar TBC umumnya tertular dari interaksi dengan penderita dewasa di sekitarnya.

"Kami juga mengimbau warga Kota Tangerang untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini. Hentikan stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC, karena penyakit ini bisa disembuhkan total asalkan pasien disiplin dan tidak patah semangat," tegasnya.

Rizky Firdaus dan Feldi penyintas TBC yang telah menjalani masa pemulihan selama tujuh hari di Rumah Sehat BAZNAS, mengaku sangat terbantu dengan pola pendampingan harian yang diberikan.

Selain pemantauan obat yang ketat, rutinitas seperti senam pagi, berjemur, hingga pemenuhan gizi harian membuatnya merasa lebih diperhatikan.

"Suasana di Rumah Sehat ini nyaman dan terbuka, beda dengan rumah sakit jadi tidak bikin jenuh. Pendampingan dari tim relawan juga bikin saya makin semangat untuk disiplin minum obat sampai sembuh," tutupnya.