Kota Tangerang bukan hanya kota industri modern. Kota ini berdiri di atas fondasi sejarah yang sangat panjang dan penuh akulturasi.
Dalam buku "Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang" karya Burhanudin, mengungkap fakta-fakta menarik mengenai transformasi wilayah Sukasari, Kali Pasir, hingga kawasan Pecinan yang menjadi saksi bisu perkembangan peradaban di timur Sungai Cisadane.
Buku tersebut menuliskan, nama Sukasari sebenarnya merupakan identitas baru yang lahir di era pascakemerdekaan. Nama ini diberikan oleh Bupati Tangerang, Amin Abdullah, pada periode 1952-1955.
Sebelum era tersebut, Sukasari merupakan pusat kota bagi warga Belanda di zaman kolonial, sementara wilayah sekitarnya seperti Sukabakti dulunya merupakan area perkebunan singkong.
"Tangerang bukan sekadar kota industri, ia adalah fondasi yang menyokong pembangunan Batavia di masa lalu. Jalur kereta api di Jalan Kisamaun dan pusat niaga di bantaran Cisadane adalah bukti nyata bahwa kota ini telah menjadi hub logistik dan akulturasi budaya sejak berabad-abad silam," ujar Burhanudin.
Ia juga menambahkan, warisan ini harus terus dirawat sebagai jati diri masyarakat.
"Pasar Lama dan tepian Sungai Cisadane adalah bukti nyata akulturasi yang hidup. Sejak pendaratan rombongan Halung di abad ke-15 hingga terbentuknya pusat niaga Cina Peranakan, kawasan ini telah menjadi hub niaga yang tidak hanya mempertukarkan komoditas, tetapi juga nilai-nilai budaya yang menjadi identitas khas Tangerang hingga hari ini," tutupnya.