Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni menginformasikan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang baru-baru ini mendeteksi tujuh kasus suspek leptospirosis di wilayah Kecamatan Batuceper, Jatiuwung dan Neglasari.
“Saat ini tujuh kasus suspek leptospirosis sudah ditangani sesuai aturan. Melalui Puskesmas setempat juga telah dilakukan screening kasus leptospirosis yang melibatkan dokter, perawat dan analis kesehatan,” jelas dr. Dini, saat ditemui di Puspem Kota Tangerang, Kamis (27/2/25).
Ia pun menegaskan, kasus ini menjadi hal yang harus diwaspadai seluruh warga Kota Tangerang, karena penularannya melalui tikus. Maka, yang utama bagaimana masyarakat Kota Tangerang dapat maksimal dalam menjaga lingkungan di rumah maupun wilayah sekitar tempat tinggalnya.
“Penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira ini dapat menyerang siapa saja yang terpapar urine atau darah hewan terinfeksi, salah satunya adalah tikus. Kebersihan lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya untuk mengurangi risiko penyakit leptospirosis ini,” tegasnya.
Leptospirosis ditularkan melalui urine yang terinfeksi, melalui invasi mukosa atau kulit yang tidak utuh. Infeksi dapat terjadi dengan kontak langsung atau melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar atau terkontaminasi bakteri leptospira.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, dengan perkiraan kejadian tahunan sebesar 1,03 juta kasus dan 58.900 kematian. Insiden yang tinggi ditemukan di negara dengan iklim tropis dan sub-tropis, khususnya di negara-negara kepulauan dengan curah hujan dan potensi banjir yang tinggi.
“Gejala klinis leptospirosis pada manusia mirip dengan penyakit demam akut lain, seperti demam typhoid, dengue dan malaria. Apabila tidak segera diobati, dapat menyebabkan gejala berat dan gagal organ,” katanya.
Ia pun menegaskan, 39 puskesmas di Kota Tangerang dapat menangani kasus leptospirosis dengan tenaga kesehatan dan fasilitas yang memadai. “Dengan itu, masyarakat Kota Tangerang tak perlu ragu melakukan pemeriksaan jika gejala mulai terasa. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat tertangani dan risiko terparah dapat diminimalisir dengan maksimal,” tutupnya.