Setiap nama tempat meyimpan cerita. Dalam bukunya yang berjudul "Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang", penulis Burhanudin membedah sejarah asal usul nama tempat di wilayah Kecamatan Ciledug, khususnya Kelurahan Tajur dan sekitarnya.
Tajur adalah wilayah Kecamatan Ciledug bagian barat daya yang berbatasan langsung dengan wilayah Tangerang Selatan. Kali Angke juga menjadi penanda perbatasan wilayah Tajur dengan Sudimara Pinang. Menurut kamus Sunda, 'tajur' berarti kebun, ladang yang biasa ditanami.
Perbedaan utama dari tanah-tanah tegal (lapangan yang ditumbuhi), talun (pengarapan baru), kebon (kebun), sawah atau serang (diairi), huma (sawah tak diairi, juga disebut tipar dan gaga), bera (tanah terbuka tidak digarap), lapang (tanah datar tidak ditanami), bubulak (padang rumput) sering ditemukan dalam banyak nama.
Keadaan di mana kebanyakan desa terbentuk di waktu yang cukup muda, telah mengakibatkan sebutan seperti tajur (tanah yang ditanami) dan baru (pengarapan baru, terutama kebun kopi) terpakai untuk penamaan desa baru yang terbentuk di sana.
Menurutnya, tajur dulunya adalah kebun untuk bercocok tanam mulai dari singkong, rambutan hingga duren. Menjadi daerah perkebunan karena memang Tajur adalah tanah daratan yang cocok untuk menanam. Bahkan di zaman kolonial Belanda, Tajur menjadi tempat persemaian dan perkebunan karet.
"Dahulu orang di kampung ini taat dalam beribadah, taat menjalankan agama Islam. Warganya juga jujur, makanya disebut orang Tajur yang artinya orang yang taat dan jujur. Dengan begitu Tajur berasal dari singkatan taat dan jujur yang mencerminkan perilaku masyarakatnya," tambahnya.
Salah satu kampung di Tajur adalah Kampung Duren Sawit. Kampung ini dulunya memang banyak duriannya, hanya durian di sini kecil-kecil jika dibandingkan durian pada umumnya. Karena saking kecilnya untuk ukuran durian maka orang mengibaratkannya seperti sawit. Oleh karena itu daerah ini disebut duren sawit.
"Di wilayah duren sawit ini dulunya banyak ditemukan pohon durian. Meskipun duriannya kecil-kecil rasanya tetap manis," sambungnya.
Selain Kampung Duren Sawit, di Tajur juga ada Kampung Ciputat. Letaknya berbatasan dengan Kelurahan Sudimara Selatan di sebelah timur dan berbatasan dengan Kelurahan Sudimara Pinang dibagian barat.
Asal nama Kampung Ciputat berasal dari pohon putat yang banyak ditemukan dipinggir Kali Angke yang membentang dari Kampung Tajur sampai Kampung Dukuh.
Karena banyak ditemukan pohon putat yang hidup didekat sumber air, kampung ini disebut dengan Ciputat yang artinya pohon putat yang tumbuh dekat air.
"Pohon putat memang jenis pohon langka yang sulit untuk ditemui, pohon putat tumbuh dengan daun yang lebar dan besar. Apabila pohon putat mencapai ketinggian maksimum sampai 28 meter, ia boleh dilihat berbentuk seperti payung. Di atas keunikan ini, pohon putat juga ditanam di taman rekreasi sebagai peneduh," pungkasnya.
Ia juga menerangkan, daun Putat yang berbentuk bujur, panjang dan tebal. Tepi daunnya bergerigi kecil, pangkal daunnya menirus dan bertangkai pendek. Daun muda di bagian pucuk lembut dan berwarna merah keunguan. Daun berwarna hijau tua dan tebal. Pucuk putat yang lembut dan biasa dibuat ulaman, kerabu atau perencah laksa.
"Bunganya mempunyai empat kelopak yang di dalamnya kelopak terdapat pula banyak stamen yang berbulu panjang berwarna merah jambu. Bunga putat kecil ukurannya kurang lebih lima sentimeter, ia tumbuh secara berjuntai dari dahannya. Buah putat berbentuk bulat membujur seperti buah kedondong dengan warna buahnya hijau kemerahan dan bijinya besar dan keras," tutupnya.