Senin, 17 Januari 2022 19:13 WIB | Dibaca : 398
Bertahan Lestarikan Budaya, Cerita Pengrajin Topeng Barongsai di Kala Pandemi
Bertahan Lestarikan Budaya, Cerita Pengrajin Topeng Barongsai di Kala Pandemi
Bertahan Lestarikan Budaya, Cerita Pengrajin Topeng Barongsai di Kala Pandemi
Bertahan Lestarikan Budaya, Cerita Pengrajin Topeng Barongsai di Kala Pandemi
Bertahan Lestarikan Budaya, Cerita Pengrajin Topeng Barongsai di Kala Pandemi
Bertahan Lestarikan Budaya, Cerita Pengrajin Topeng Barongsai di Kala Pandemi

Dua tahun pandemi covid-19 melanda Indonesia, tak terkecuali Kota Tangerang. Euforia perayaan Imlek pun tak semeriah biasanya, dengan segala pembatasannya. Pengrajin topeng barongsai hingga pemain barongsai pun mengaku mengalami penurunan omzet didua tahun terakhir ini.

Biasanya, menjelang penyambutan Tahun Baru Imlek belasan topeng barongsai sudah laku. Tak terkecuali para pemain barongsai yang bisa tampil di tiga lokasi dalam sehari. Mulai dari Hotel, Mal, hingga dipanggil untuk tampil di rumah orang ternama.

Kondisi itulah yang dialami Kim Tjoan (69) seorang pengrajin topeng barongsai dari Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Menjadi pengrajin sejak 1999 silam, Kim Tjoan mengaku pandemi covid-19 sangat merenggut pendapatannya.

"Sebelum pandemi belasan bahkan hingga puluhan juta saya dapati dari penjualan, penyewaan dan orderan penampilan. Sekarang satu set topeng laku saja udah bersyukur banget, kalau undangan tampil-tampil sama sekali gak ada," ungkap Kim Tjoan.

Selama pandemi, Kim Tjoan sudah tak lagi memproduksi topeng barongsai yang baru. Ia bertahan, dengan stok belasan topeng yang ia miliki hingga saat ini.

Mulai dari barongsai jenis bulu sintetis hingga bulu domba. Mulai dari warna putih, merah, kuning, hijau, pink hingga barongsai warna hitam yang katanya sering digunakan untuk acara-acara sakral.

Menjual mulai dari barongsai anak-anak dengan harga Rp200 ribu, barongsai besar untuk dua pemain dengan bulu sintetis seharga Rp2,5 juta hingga bulu domba yang termahal dengan harga Rp4,5 juta.

Kim Tjoan mengaku sudah tak mencari keuntungan. Pria dengan 15 cucu ini bertahan untuk sebuah pelestarian kebudayaan China.

"Walau pendapatan kian merosot, banyak teman pengrajin beralih profesi. Kalau saya, akan bertahan untuk melestarikan kebudayaan barongsai ini, hingga saya tutup mata nanti," tegasnya.

Lanjutnya, sejak dulu menjadi pengrajin Barongsai Kim Tjoan tak melulu perkara uang. Untuk tampil di Kota Tangerang bahkan terutama di Klenteng ia tak pernah mematok harga.

"Kota Tangerang menjadi tempat saya tinggal, mungkin lewat Barongsai saya bisa mengangkat nama Kota Tangerang. Kalau di Klenteng disitu lah saya hidup," imbuhnya.

Ia pun berharap, pandemi covid-19 kian terkendalikan sehingga berbagai event dan euforia Imlek bisa kembali normal.

"Kebudayaan China sebagai bagian identitas Kota Tangerang. Semoga bisa terus dilestarikan dan dibanggakan Kota Tangerang. Pengrajin dan pemain barongsai bisa kembali normal dengan pendapatan dan aktivitasnya," harapnya.



Kota Tangerang Barongsai

Artikel Terkait


Komentar

Pastikan Google Captcha Sudah Tercentang !!!